Alasan Tidak Gunakan Tema Virus Corona Sebagai Lelucon April Mop | Telkomsel
BAGIKAN

Alasan Tidak Gunakan Tema Virus Corona Sebagai Lelucon April Mop

Article
Alasan Tidak Gunakan Tema Virus Corona Sebagai Lelucon April Mop

Alasan Tidak Gunakan Tema Virus Corona Sebagai Lelucon April Mop

Alasan Tidak Gunakan Tema Virus Corona Sebagai Lelucon April Mop

Setiap tanggal 1 April, dunia memperingati April Mop, sebuah momen yang dimanfaatkan banyak pihak untuk ngerjain orang lain. Dalam April Mop, kegiatan ngusilin orang lain dianggap lelucon yang sah-sah saja, bahkan korban dan publik diminta untuk bisa memaklumi sekonyol apa pun prank yang dilakukan.

Namun ternyata kegiatan tipu-tipu lucu ini punya dampak negatif yang serius lho. Contohnya, kita jadi kebingungan membedakan antara berita benar dan hoax yang mungkin saja membuat kita menganggap berita benar sebagai hoax atau sebaliknya. Seperti kita ketahui, tingkat literasi dan validasi fakta masyarakat masih cukup rendah. Yang lebih parah, April Mop juga berpotensi membahayakan kesehatan mental, seperti rasa cemas yang berlebihan dan ketidakstabilan emosi. Sudah banyak contoh lelucon jahil yang bisa membahayakan keselamatan orang lain. Alih-alih bertujuan menghibur, beberapa kejadian malah membawa petaka, bahkan hingga berujung kematian.

Dalam konteks masa darurat COVID-19 seperti saat ini, kesadaran agar tidak menggunakan tema virus Corona untuk ngerjain orang lain saat April Mop seharusnya sudah kita miliki. Alasannya sederhana: pandemi COVID-19 adalah salah satu tragedi terburuk sepanjang masa yang telah merenggut nyawa hingga puluhan ribu jiwa di seluruh dunia. Menggunakan pandemi ini sebagai lelucon bisa menyebabkan kebingungan, ketakutan, dan kepanikan, memunculkan perselisihan, serta membuat fakta tidak lagi dipercaya.

Sudah sewajarnya kita lebih sensitif dalam memperhatikan rambu-rambu dan batasan-batasan dalam bercanda dan membuat lelucon. Kita perlu lebih mengasah kepekaan dan rasa empati kita akan konsekuensi yang mungkin timbul akibat perilaku kita sendiri. Sebelum melakukan sesuatu, sering-seringlah bertanya, “Apakah yang aku lakukan berpotensi merugikan dan membahayakan diri sendiri atau orang lain?”

Apabila tetap nekat, konsekuensi pidana siap menanti bagi orang-orang yang menggunakan virus Corona sebagai bahan prank atau hoax. Baru-baru ini puluhan penyebar hoax virus Corona lewat media sosial diproses hukum oleh aparat kepolisian. Di kasus lainnya, beberapa pemuda yang membuat prank virus Corona juga ditangkap polisi.

Sebagai bahan introspeksi untuk diri sendiri, ada baiknya kita belajar dari contoh yang tepat. Raksasa teknologi Google baru-baru ini memutuskan untuk mengurungkan diri berpartisipasi dalam tradisi April Mop karena menaruh rasa hormat bagi seluruh pihak yang berjuang mengatasi pandemi COVID-19. Keputusan ini sangat bertolak belakang dari ritual perusahaan tersebut yang sudah puluhan tahun selalu memanfaatkan April Mop sebagai momen melempar lelucon.

Sudah sepantasnya kita tidak menjadikan virus Corona sebagai salah satu tema untuk ngerjain orang ketika April Mop. Lebih lanjut lagi, sudah seharusnya kita lebih bijak dalam memanfaatkan momen April Mop dalam masa-masa sulit seperti darurat COVID-19 yang kita alami saat ini. Kita perlu untuk bisa memahami konteks secara lebih mendalam dan mampu lebih fleksibel untuk meninggalkan tradisi apabila apa yang akan kita lakukan malah berpotensi menimbulkan dampak yang fatal bagi diri sendiri dan orang lain.