Salah Satu Upaya Startup untuk Bertahan dan Berkembang, Gabung ke Ekosistem Telkomsel | Telkomsel

Salah Satu Upaya Startup untuk Bertahan dan Berkembang, Gabung ke Ekosistem Telkomsel

Article
Embracing the new chapter of startups ecosystem

Winter is coming (for startup). Ungkapan yang diambil dari moto House Stark, salah satu Rumah Besar Westeros di film Game of Thrones, itu kembali santer terdengar belakangan. Menyambut musim baru, mau nggak mau startup pun harus bersiap mengingat tantangan ekonomi global yang meningkat. Fyi, Bank Indonesia memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global bakal turun jadi 2,7% sampai 2,6% tahun depan, bahkan risiko resesi diprediksi mengintai negara-negara maju. 

 

Tapi, bagaimanapun dalam setiap kesulitan ada peluang yang harus kita upayakan bersama. Untuk itulah, Telkomsel terus mengoptimalkan perannya sebagai digital ecosystem enabler di Tanah Air dalam mendorong pertumbuhan ekosistem digital melalui inovasi dan kolaborasi. Salah satunya, lewat program T-Connext, yang mempertemukan unit-unit bisnis digital Telkomsel beserta portofolio startup dari ekosistem Telkomsel Innovation Center (TINC), Telkomsel Mitra Inovasi (TMI), dan INDICO, dengan pelaku ekosistem digital lainnya di tingkat nasional maupun global.

 

"Kami sadar bahwa perkembangan teknologi mengubah dunia. Telkomsel sebagai bagian dari ekosistem ini memiliki peran yang besar untuk berkontribusi lebih. Banyak dari startup yang bernaung di bawah kami mengatakan telco big data yang kami miliki dapat membantu mereka go-to-market lebih cepat serta memudahkan akses ke investor. Lewat. T-Connext, kami akan menghubungkan startup dengan pihak terkait lainnya agar mereka bisa berkembang ke tingkatan yang lebih tinggi," terang Direktur Planning & Transformation Telkomsel Wong Soon Nam dalam mini talkshow bertajuk “Embracing the New Chapter of Startups Ecosystem” pada Rabu (21/9).

 

Upaya kolaborasi yang dilakukan Telkomsel dalam beberapa tahun terakhir, menurut Soon Nam, telah membantu startup agar lebih mudah masuk pasar. Bahkan, aksi kolaborasi tersebut bisa mengurangi biaya akuisisi pelanggan sebesar 25%. "Belajar dari pengalaman, kami telah membantu startup menghemat pengeluaran dengan signifikan. Jangan ragu untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan berkreasi bersama kami. Expertise yang Telkomsel miliki akan membuat strategi go-to-the-market startup menjadi lebih efektif," ungkap Wong Soon Nam.

 

Managing Director APAC of Singtel Innov8 Wan Kum Tho dalam kesempatan yang sama menuturkan bahwa kolaborasi yang diusung T-Connext memberikan keuntungan tersendiri bagi startup, yaitu terhubung langsung dengan hampir 170 juta pelanggan Telkomsel dan bisa mengidentifikasi peluang.

 

"Membangun startup bukan perkara mudah. Minimnya pengalaman dan track records akan sulit menembus pasar. Tapi, melalui kolaborasi bersama mitra yang memiliki reputasi baik dan kredibel dengan basis pengguna sekira 170 juta akan mengubah problem solution fit menjadi product market fit. Itulah mengapa penting bermitra dengan Telkomsel melalui program seperti T-Connext," tutur Wan Kum Tho.

 

Baca Juga: T-Connext Hubungkan Startup dengan Pegiat Ekosistem Digital dalam Membuka Peluang Berdaya dan Bertumbuh Bersama

 

Momen yang Tepat untuk Merintis

 

Perjalanan startup sendiri di Indonesia sudah berlangsung setidaknya dalam 12 tahun terakhir. Belum lama ini, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyampaikan bahwa saat ini Indonesia memiliki dua startup berstatus decacorn atau yang memiliki valuasi mencapai USD 10 miliar dan sembilan startup berstatus unicorn atau yang punya valuasi mencapai USD 1 miliar. 

 

Kalau dilihat sekilas, mungkin sebagian orang berpikir bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membangun startup karena pertimbangan situasi ekonomi dan lain sebagainya. Terkait hal itu, Founder and Managing Partner of Kejora Capital Andy Zain justru menilai sebaliknya. Bergugurannya sejumlah startup, menurutnya, telah membuka peluang lain untuk ‘berburu’ talenta unggulan sebagai salah satu fondasi keberhasilan. Selain itu, Andy mengungkapkan bahwa Asia Tenggara saat ini menjadi kawasan incaran para perusahaan modal ventura. 

 

“Berdasarkan perhitungan internal, kami menemukan bahwa setidaknya ada USD 2-3 miliar yang siap diinvestasikan di Asia Tenggara untuk perusahaan rintisan tahap awal. Jika kamu bisa membangun sebuah perusahaan yang bagus, katakanlah tidak hanya mengejar growth, tapi juga memilah-milah profitabilitas maka USD 3 miliar tadi akan datang kepadamu," ujar Andy.

 

Baca Juga: Pemanfaatan Teknologi Big Data dan AI untuk Meningkatkan Customer Experience (CX)

 

Menteri Perdagangan RI periode 2011-2014 Gita Wirjawan yang hadir dalam acara yang sama menuturkan sejumlah kriteria yang menurutnya harus dimiliki oleh para entrepreneur. "Pandemi COVID-19 telah menunjukkan bahwa mereka yang memikirkan bisnis dalam jangka panjang adalah mereka yang open-mindedness atau memiliki agility dengan cara pivoting, repurposing, upskilling, dan mereka yang mampu membuat keputusan sulit untuk mendapat umpan balik lebih cepat, serta fokus untuk menghadirkan solusi yang bersifat 'main course' bukan desserts dan appetizers," ungkap Gita.

 

"Jadi, memiliki kemampuan untuk membuat keputusan sulit, bersahaja, dan mampu repurposing adalah beberapa hal yang perlu dimiliki entrepreneurs agar berhasil secara jangka panjang. Dan yang hebat soal T-Connext adalah ketika siapapun bergabung maka mereka akan memasuki sebuah ekosistem yang luar biasa, yang didukung oleh Telkomsel yang memiliki spirit sangat open minded, sangat mendukung pengembangan entrepreneurs, dan memahami cara menjalankan bisnis secara jangka panjang,” imbuhnya.

 

Para pelaku dan penggiat startup memang harus cermat dan mempersiapkan diri dalam melewati masa penuh tantangan ini. Tapi kita mesti yakin karena menurut riset yang bersumber dari Google, Temasek dan Bain & Co,. nilai transaksi ekonomi digital Indonesia pada 2020 mencapai USD 44 miliar dan diproyeksikan akan naik mencapai 181,8% pada 2025. Yuk, tetap optimis, bukankah setelah “winter” akan hadir musim semi.